Posted on September 04, 2019

Ekspedisi Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019

Menjelang akhir tahun nanti, tepatnya pada tanggal 26 Desember 2019, masyarakat Indonesia akan mendapat kesempatan untuk menyaksikan sebuah peristiwa astronomi yang langka dan spektakuler, yaitu Gerhana Matahari Cincin. Gerhana ini dapat dilihat dari sebagian wilayah timur Afrika, hampir seluruh Asia termasuk seluruh Indonesia, sebagian Rusia, dan sebagian Australia. Sementara di Indonesia, jalur pusat gerhana ini akan melintasi sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan (lihat gambar 1).

Gambar 1. Peta wilayah yang dilalui jalur Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019.

Gerhana Matahari adalah sebuah peristiwa yang terjadi jika Matahari, Bulan, dan Bumi terletak segaris dan sebidang. Akibat konfigurasi posisi seperti itu, Bulan akan menutupi piringan Matahari dan terjadilah gerhana Matahari. Berdasarkan beberapa faktor seperti jarak Bumi – Bulan, jarak Bumi – Matahari, serta posisi Matahari dan Bulan di langit, terdapat 3 macam gerhana Matahari yang dapat kita amati yaitu gerhana Matahari total (GMT), gerhana Matahari cincin (GMC), dan gerhana Matahari sebagian (GMS). Tambahan satu lagi berupa gerhana hibrid, yaitu ketika dalam sehari itu di sebagian waktunya terjadi gerhana total dan sebagian lainnya terjadi gerhana cincin.

Orbit Bumi dan Bulan
Menurut waktu terjadinya, sebuah gerhana Matahari pastilah terjadi pada saat Bulan masuk fase mati/baru (umur 0 hari), sedangkan gerhana Bulan selalu terjadi pada saat Bulan purnama (umur sekitar 15 hari). Namun tidak di setiap Bulan baru/purnama akan terjadi gerhana. Hal ini disebabkan oleh bidang orbit Bulan mengelilingi Bumi tidak berhimpit dengan ekliptika (bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari), melainkan bersilangan dengan sudut sekitar 5°.

Gambar 2. Diagram orbit Bumi dan Bulan (tidak sesuai skala sebenarnya). Sumber: Puspa Iptek Sundial

Bisa kita lihat pada gambar 2 di atas, gerhana hanya akan terjadi di posisi 2 dan 4 saja. Karena saat itu Bulan berada di perpotongan bidang orbit Bumi dan Bulan (garis putus-putus warna merah). Selisih waktu antara kedua posisi itu adalah sekitar 6 bulan. Sehingga setelah gerhana pada bulan Desember 2019 nanti, gerhana berikutnya akan terjadi sekitar 6 bulan kemudian yaitu bulan Juni 2020.

Bulan, yang mengelilingi Bumi dengan orbit berbentuk elips, akan mengalami perubahan jarak dari Bumi secara periodik. Terkadang Bulan berada di posisi terdekat dengan Bumi (disebut perigee), di lain waktu berada di posisi terjauhnya (disebut apogee). Begitu pula Bumi, terkadang di titik terdekat dari Matahari (perihelion) dan terkadang di titik terjauhnya (aphelion). Akibat perubahan jarak tersebut, ukuran (diameter sudut) Bulan di langit juga bervariasi antara 29,43 sampai 33,5 menit busur. Sedangkan diameter sudut Matahari bervariasi antara 31,6–32,7 menit busur. Dari sini kita bisa lihat bahwa ukuran Bulan bisa saja lebih kecil atau lebih besar dari Matahari (lihat gambar 3).


Gambar 3. Diagram ukuran sudut Matahari dan Bulan. Sumber: Puspa Iptek Sundial


Pada saat terjadinya GMC nanti, Bumi sedang mendekati titik perihelion (terjadi pada tanggal 5 Januari 2020), sedangkan Bulan menuju ke titik apogee (terjadi pada tanggal 2 Januari 2020). Artinya saat gerhana terjadi di tanggal 26 Desember 2019, ukuran kenampakan Bulan (diameter sudut 32' 31.4") lebih kecil dari pada Matahari (31' 6"). Dan karenanya gerhana Matahari yang terjadi adalah gerhana cincin.



Gambar 4. Diagram pembentukan bayangan pada gerhana Matahari total dan cincin  (tidak sesuai skala sebenarnya). Sumber: Puspa Iptek Sundial


Dari gambar 4 di atas dapat kita lihat bahwa bayangan yang dihasilkan Bulan terdiri dari bayangan sebagian (penumbra), bayangan penuh (umbra), dan perpanjangan dari umbra (antumbra). Bagi pengamat di wilayah yang terkena penumbra, gerhana yang terjadi adalah gerhana Matahari sebagian. Sedangkan pengamat di wilayah yang terkena antumbra akan mengamati gerhana Matahari cincin. Antumbra sendiri terbentuk karena Bulan di sekitar titik terjauh dari Bumi dan Bumi di sekitar titik terdekat dari Matahari.

Lintasan Gerhana
Berbeda dengan lintasan pusat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 lalu yang melewati beberapa pulau di Indonesia (Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian tengah, serta kepulauan Maluku), lintasan pusat GMC mendatang hanya melewati pulau Sumatra dan Kalimantan saja. Berikut ini beberapa daerah yang bisa mengamati gerhana cincin:
1.    Simeulue, Sinabang, & Singkil di Aceh.
2.    Sibolga & Padangsidempuan di Sumatra Utara.
3.    Duri, Siak, Dumai, Minas, Tebingtinggi, & Bengkalis di Riau.
4.    Kepulauan Meranti, Batam, & Tanjungpinang di Kepulauan Riau.
5.    Sungai Raya, Pemangkat, & Singkawang di Kalimantan  Barat.
6.    Derawan di Kalimantan Timur.
7.    Tanjung Selor di Kalimantan  Utara.

Gambar 5. Peta jalur pusat Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019 di Indonesia. Sumber: Peta interaktif Xavier Jubier.

Selain Indonesia, jalur pusat gerhana ini juga akan melintasi Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, India, Sri Lanka, Malaysia, Singapura, dan Guam. Sementara itu wilayah lain di Indonesia dapat melihat gerhana sebagian dengan porsi tertutupnya Matahari hingga paling sedikit 20% di wilayah selatan Papua. Misalnya untuk di Bandung, Bulan menutupi 70% permukaan Matahari. Di Jakarta gerhananya mencapai sekitar 72%. Semakin mendekati jalur pusat gerhana, porsi tertutupnya Matahari semakin besar.

Mengamati Gerhana Matahari
Sebagai sebuah objek langit yang sangat terang, Matahari tidaklah boleh diamati dengan sembarangan, baik secara langsung dengan mata telanjang dan terlebih lagi dengan menggunakan alat bantu seperti binokuler, teleskop, dan alat optik lainnya. Energi yang dipancarkan Matahari sangatlah kuat dan tidak hanya pada cahaya tampak saja, tapi juga di cahaya ultraungu dan inframerah. Kesalahan dalam mengamati Matahari akan berakibat kerusakan pada mata (kebutaan) permanen.

Gambar 6. Kiri: Diagram proyektor lubang jarum. Sumber: Puspa Iptek Sundial. Kanan atas: Pengamat menggunakan proyektor lubang jarum untuk mengamati  gerhana Matahari. Sumber: Jim Henderson, Wikimedia Commons. Kanan bawah: Citra proyeksi Matahari berbentuk sabit dari bayangan daun pepohonan di Malta. Sumber: Ellywa, Wikimedia Commons.

Prinsip utama untuk mengamati Matahari, baik dalam keadaan gerhana atau tidak, adalah dengan mengurangi cahaya yang masuk ke mata kita. Cara paling aman dan mudah adalah menggunakan proyeksi lubang jarum karena pengamatan dilakukan dengan membelakangi Matahari. Caranya adalah dengan melubangi aluminium foil dengan jarum jahit/pentul, lalu alumunium foil tersebut kita tempelkan di kotak kardus yang sudah dilubangi. Nanti kita dapat melihat citra proyeksi Matahari di bagian dalam kardus tersebut (lihat gambar 6). Semakin panjang kotak, citra akan semakin besar namun redup. Semakin besar lubang jarum, citra akan semakin samar/tidak fokus.

Cara lain adalah dengan menggunakan filter dan kacamata Matahari yang berkualitas. Dengan begitu cahaya Matahari yang diloloskan hanya 0.00001% sehingga aman bagi mata kita untuk mengamati Matahari baik menggunakan mata secara langsung ataupun menggunakan alat bantu optik seperti teleskop dan binokuler. Alternatif lain adalah dengan menggunakan kaca las #14 (yang paling gelap). Hanya saja dengan kaca las ini citra Matahari akan tampak berwarna kehijauan, sedangkan dengan filter dan kacamata Matahari tampak berwarna jingga atau kuning kemerahan. Pastikan tidak ada lubang sekecil apapun pada filter dan kacamata Matahari serta kaca las.

Gambar 7. Kiri : Mengamati Matahari dengan teleskop harus dilengkapi dengan filter khusus Matahari. Sumber; Puspa Iptek Sundial. Kanan atas: Kacamata Matahari. Kanan bawah: Matahari tampak hijau jika dilihat dengan kaca las #14. Sumber: Santeri Viinamäki, Wikimedia Commons.

Bahan-bahan dan cara selain itu, seperti lembaran rontgen, negatif film, CD, baskom berisi air, kacamata hitam, dan kaca helm tidaklah aman untuk digunakan dalam pengamatan Matahari. Sayangi mata kita karena kerusakan bisa saja tidak langsung dirasakan tetapi berangsur-angsur hingga akhirnya terjadi kebutaan permanen.

Berburu Gerhana di Batam
Gerhana Matahari adalah peristiwa yang sangat langka bagi suatu daerah. Di Indonesia, beberapa gerhana Matahari yang pernah terjadi adalah pada tanggal 11 Juni 1983 (GMT), 18 Maret 1988 (GMT), 22 Agustus 1998 (GMC), 26 Januari 2009 (GMC), dan 9 Maret 2016 (GMT). Namun semua jalur pusatnya tidak melintasi Bandung. Oleh karena itu, Puspa Iptek Sundial mengajak warga Bandung dan siapa saja yang berminat untuk mengikuti kegiatan Ekspedisi Berburu Gerhana Matahari Cincin tanggal 25-27 Desember 2019 mendatang di Batam.

Pendaftaran untuk kegiatan ekspedisi ini akan ditutup tanggal 3 November 2019. Periode pendaftaran dibagi menjadi 2 gelombang dengan rincian sebagai berikut:
1.    Gelombang 1 (19 Ags-22 Sep 2019): Rp. 2.400.000/orang.
2.    Gelombang 2 (23 Sep-3 Nov 2019): Rp. 2.900.000/orang.

*Catatan: jumlah peserta minimal untuk kegiatan ini adalah 20 orang.


Ketentuan pendaftaran:
1.    Pendaftaran dilakukan secara online (cek Google Form di sini) dan ditutup 3 November 2019.
2.    Peserta umum/semua usia. Peserta di bawah 13 tahun wajib didampingi minimal 1 (satu) orang dewasa.
3.    Meeting point: Bandara/Hotel di Batam.
4.    Pembayaran harus dilakukan paling lambat di akhir setiap gelombang, bisa melalui transfer ke BCA Cabang Padalarang no 2783001136 a.n. Yayasan Parahyangan Satya.

Berbagai fasilitas yang diperoleh para peserta adalah:
1.    Penginapan di hotel bintang 3 (1 kamar untuk 2 orang),
2.    Pengamatan langit malam*.
3.    Pengamatan Gerhana Matahari Cincin* & kacamata Matahari.
4.    Workshop + kit.
5.    T-Shirt (Cek ukuran T-Shirt di sini).
6.    Transportasi di lokasi (Tidak termasuk transportasi dari/ke luar Batam).
7.    Tiket masuk tempat wisata.
8.    Konsumsi 7x.
* Jika cuaca memungkinkan.

Dapatkan juga diskon khusus dengan syarat dan ketentuan berlaku. Jika ada pertanyaan terkait kegiatan ini, silakan hubungi staf Puspa Iptek Sundial, Hanief Trihantoro di WA 0817226986.

Ingat, kuota peserta terbatas. Jadi jangan sampai Anda dan keluarga kehabisan tempat di kegiatan yang langka ini. Gerhana Matahari berikutnya, yang jalur pusatnya melewati Indonesia, baru akan terjadi lagi pada gerhana Matahari total tahun 2023 alias 4 tahun lagi!